6 KUNCI SUKSES UNTUK MEMBANGUN TIM JUARA

Ibnu Y. Astono,SE. 22 February 2018

Di sebuah pagi di kantor kami ActionCOACH di Gandaria City Office Tower Lantai 9 sudah disiapkan ruangan untuk sesi coaching seorang klien kami yang sangat antusias dan positif. Kami mempunyai janji untuk bertemu di Jam 09.00 pagi. Tidak lama kemudian terdengar suara bel di meja receptionist kantor dan jam masih menunjukan 08.45 pagi, Wow! Sangat disiplin dan semangat sekali klien ini. Tanpa menunggu waktu lagi, saya menyambut dengan menyapa beliau, “semangat pagi Pak..apa kabar FUNtastic hari ini ?..”, beliau menjawab dengan senyum sangat lebar,” Kabar FUNtastic Coach Ari,Semangat pagi juga..”.Sambil bersalaman kami duduk saling berhadapan dan saya menyiapkan beberapa catatan kecil dari sesi coaching 2 (dua) minggu lalu. Istilah yang sering digunakan di ActionCOACH adalah FUNTastic, bisnis harus FUN.
“Bagaimana Pak untuk HomeFUN yang sudah kita sepakati 2 (dua) minggu lalu ?” saya bertanya sambil melihat kertas beberapa catatan kecil mengenai kesepatan tersebut.
“Mantap Coach ! saya baru saja ikut dan mendaftar suatu perkumpulan yang isi-nya orang-orang yang sama dengan saya sesama pemilik bisnis”, “ Disana saya banyak diskusi dan tukar pikiran dengan mereka tentang bisnis, bagaimana mengaturnya,membuat tim juara,pokoknya bukan 2 jempol lagi deh..”
“Tapi Coach, yang sangat saya garisbawahi adalah bagaimana membangun Tim Juara untuk dapat meningkatkan Omzet Bisnis..”
“Senang sekali bisa melihat Bapak banyak mendapatkan pelajaran dari sana, jadi bagaimana menurut Bapak membangun Tim Juara tersebut ?”
“Hmmm..saya harus melakukan cara pemilihan tim yang tepat dan memberikan pelatihan yang tepat untuk Tim saya Coach..”
“Dengan melakukan 2 (dua) tersebut apakah Tim sudah mempunyai syarat-syarat menjadi sebuah Tim Juara ? “
“Saya merasa dengan melakukan pemilihan anggota tim yang tepat,syarat tersebut sudah terpenuhi.”
“Bapak tahu kalau ada 6 syarat atau kunci yang harus dimiliki sebuah Tim Juara ?”
“Apa saja itu Coach ? “
Sebelum menjawab pertanyaan Klien, saya berdiri dan mengambil Spidol Besar dan membuka flip-chart untuk memberikan gambaran visual yang lebih jelas.

1. Kunci Pertama : Kepemimpinan yang kuat
“Kunci pertama yang harus dimiliki setiap tim juara adalah sifat kepemimpinan yang kuat, ini adalah yang harus ada dalam setiap individu didalam tim tersebut..”
“Bagaimana bisa memastikan bahwa setiap individu mempunyai sifat tersebut Coach?”
“Excellent question Pak..saya coba gambarkan lagi secara visual”
Saya menggambarkan tulisan kata “Passion – Responsibility” dengan huruf besar dan memakai warna yang berbeda. Dengan memakai warna yang berbeda ini maka otak kita dapat cepat menyerap informasi yang dibaca.
Keputusan merekrut seseorang menjadi salah seorang anggota dari Tim kita adalah mengetahui banyak tentang hasrat (passion) di dalam hidup dan kerjanya. Pastikan bahwa ini adalah sesuatu yang dia inginkan secara sadar dan menjadi salah satu dari tujuan dalam hidupnya.
Tanggung Jawab (responsibility) yang besar atau komitmen yang jelas yang harus dbangun sesuai dengan hasrat anggota tim dalam menjalankan pekerjaannya.
“Begini Pak, jadi bukan hanya kita memastikan tetapi juga kita harus membangun hasrat dan tanggung jawab setiap anggota tim”
“Coach,saya mempunyai pengertian baru..”
“Bahwa meskipun di awal kita sudah melakukan proses rekruitmen tetapi proses membangun hasrat dan tanggung jawab juga harus dilakukan..”
Hasrat seorang anggota tim harus selaras dengan pekerjaan dan tanggung jawab yang mereka jalani bersama anggota tim yang lain. Dengan mempunyai satu kesamaan hasrat dan tanggung jawab yang sama maka keseluruhan anggota tim akan selalu berjalan di jalan yang sama menuju satu tujuan.
“Bapak tahu kalau kita analogikan bahwa mobil dengan 16 Silinder bisa membuat performance menjadi meningkat ?..”
“Wah sangat menarik Coach, tapi bagaimana menghubungkan dengan performance sebuah Tim ?”
“Oke coba saya visualisasikan lagi ya Pak...” Saya mengambil spidol besar dan membalik flip-chart dengan menggambarkan tulisan besar dan berwarna-warni lagi. TUBUH dan PIKIRAN mempunyai silinder 3 + 3 = 6 silinder. Kondisi dengan 6 silinder ini hanya memposisikan di posisi seorang Manager. Untuk menambah performance untuk menjadi tim pemenang adalah dengan menambahkan HATI dan SEMANGAT yang mempunyai nilai 5 + 5 = 10. Total nilai sebuah tim pemenang menjadi 6 + 10 = 16 .
“Wow Coach, berarti selama ini saya kurang menambah 10 nilai lagi di tim saya..”
“Senang mendengar Bapak mendapatkan pengertian dari analogi ini..”
Menurut William Glasser dalam bukunya, Choice Theory, sesungguhnya di dalam situasi yang paling ekstrem sekalipun, seseorang tidak dapat dipaksa untuk melakukan suatu pekerjaan. Jikalau orang tersebut mau mengerjakan pekerjaan yang dipaksakan itu, biasanya hasil kerjanya tidak memuaskan.
Dalam bukunya tersebut, William menyebutkan delapan ciri perilaku yang menggambarkan sifat seorang pemimpin yang baik.
1) Beri teladan tentang arti sukses kepada bawahan.
Alasan umum seseorang tidak berusaha keras dalam bekerja adalah karena mereka tidak tahu persis tujuan mereka bekerja. Ketidakadaan tujuan dan arah sering mematahkan motivasi kerja. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memberi contoh kesuksesan yang bisa diraih para bawahannya.
2) Beri bawahan Anda peralatan yang mereka butuhkan.
Banyak orang mempersepsikan, tugas seorang pemimpin adalah menyelesaikan masalah bawahannya. Namun, sebenarnya itu bukan tugas Anda sebagai atasan. Daripada terus-menerus turun tangan menyelesaikan masalah orang lain, lebih baik berikan bawahan Anda cara dan rambu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
3) Jangan sungkan untuk memuji keberhasilan bawahan.
Tak hanya kritik, pujian dan apresiasi terhadap hasil kerja bawahan juga dapat memotivasi produktivitas dan membangun kepercayaan diri bawahan untuk lebih sukses lagi.




4) Berikan ruang untuk kesalahan.
Sesungguhnya kesalahan adalah guru terbaik bagi pembelajaran, maka berilah toleransi bagi kesalahan yang dilakukan bawahan. Terkadang kesalahan dilakukan bawahan bukan karena ia tidak becus bekerja, tapi karena ketidaktahuannya akan suatu hal.
5) Delegasikan tugas tanpa banyak turut campur.
Pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu mempercayakan tugas secara penuh kepada bawahannya. Biarkan bawahan mengatasi kendala pekerjaannya sendiri. Namun, di sisi lain pastikan diri Anda selalu ada untuk membantu saat mereka membutuhkan Anda.
6) Lebih baik bertanya daripada memberi nasihat
Seringkali bawahan Anda tahu lebih banyak daripada yang Anda pikir mereka ketahui. Tanyakan pendapat mereka tentang masalah-masalah yang sedang mereka hadapi di kantor. Dengan demikian, Anda membantu mereka menyimpulkan sendiri jalan keluar terbaik dari masalah tersebut. Hindari memberi nasihat, karena akan terkesan menggurui.
7) Bersikaplah ramah.
Aturan mainnya sungguh sederhana. Jangan berharap orang lain bersikap ramah kepada Anda jika Anda sendiri tidak ramah terhadap orang lain. Seorang pemimpin yang baik tak perlu menjadi galak untuk bisa tegas dan efektif memanajeri bawahannya. Dengan bersikap ramah, Anda akan selalu bisa melihat sisi positif dari setiap karyawan Anda dan memotivasi mereka untuk bekerja lebih baik lagi.
8) Tak kenal maka tak sayang.
Kepemimpinan erat terkait dengan hubungan antar manusia. Saat bawahan percaya bahwa Anda tulus peduli dengan mereka, mereka akan berusaha lebih baik dalam bekerja. Kenali lebih dekat bawahan Anda, dengarkan cerita dan keluh kesahnya. Pada akhirnya, kualitas kepemimpinan seseorang dapat dilihat dari kualitas hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.

Dari 8 (delapan) teori diatas, kemampuan untuk mendengar dan menggali sesuatu hal terhadap sesama anggota tim akan menjadikan komunikasi menjadi lebih baik dalam mencari penyelesaian atau ide-ide baru. Gaya pemimpin yang selalu menempatkan dirinya selalu diatas dan tidak melihat kebutuhan dari orang-orang yang dipimpinnya maka akan menghasilkan aliran kerja yang tidak positif.
Alam semesta ini sudah banyak memberikan kita informasi secara jelas dan harafiah mengenai keseimbangan kehidupan. Dalam kaitannya dengan salah satu kunci sukses ini adalah seorang pemimpin harus menjalankan komunikasi 2(dua) arah dan kontak fisik (physical contact) positif diantara sesama anggota tim.
Saya mendapatkan pengertian sangat luar biasa ini ketika sedang sarapan yang kebetulan ruangannya terdiri dari kaca besar yang diluar sana terdapat 2 (dua) ekor pasangan Singa. Saya memperhatikan dua pasangan singa tersebut sambil memakan telor mata sapi dan meminum kopi saya beberapa kali . Selang sekitar 10menit Singa Jantan sering menghampiri Singa Betina sambil mengeluarkan suara khas sang Raja Hutan tersebut seolah sedang berbicara kepada singa betina. Setelah itu, singa betina mendekatkan dirinya kepada singa jantan sambil mengelus kepalanya ke tubuh singa jantan tersebut. Menarik sekali, binatang pun membutuhkan selalu komunikasi dan kontak fisik untuk menjaga keseimbangan hubungan baik mereka.
“Menarik sekali ya Coach cerita mengenai dua singa tersebut..”
“Benar sekali Pak..ada contoh lain yang alam semesta ini juga memberikan petunjuk..”
“Apa itu Coach ?”
“Oke begini Pak, Bapak lihat kursi itu ?..”
“ Ya Coach..”
“Apa yang Bapak rasakan atau bayangkan ketika Bapak melihat kursi ?”
“Hmmmm..saya ingin duduk Coach..”
“Bapak merasakan seolah-olah kursi tersebut berkomunikasi bahwa saya ini adalah tempat duduk..benar begitu ya Pak ? “
“Benar sekali Coach dan Kursi ini juga menyentuh lantai atau ada kontak fisik kursi ini dengan benda lain..”
“Ya benar sekali Pak..Komunikasi dan Kontak Fisik menjadi 2 (dua) hal yang harus dilakukan dalam membentuk suatu sinergi positif terhadap manusia juga..”
Dengan melakukan suatu komunikasi dengan kontak fisik positif akan meningkatkan interaksi social sesama anggota tim.
Dari tulisan De Ra Fa Journey ,berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada pelbagai faktor :

a. Imitasi
Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku

b. Sugesti
Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.

c. Identifikasi
Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.

d. Proses simpati
Sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.

Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok.




Dua Syarat terjadinya interaksi sosial :
1) Adanya kontak sosial (social contact), yang dapat berlangsung dalam tiga bentuk.Yaitu antarindividu, antarindividu dengan kelompok, antarelompok. Selain itu, suatu kontak dapat pula bersifat langsung maupun tidak langsung.

2) Adanya Komunikasi, yaitu seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perassaan apa yang ingin disampaikan orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.
Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya menyentuh). Arti secara hanafiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak baru terjadi apabila terjadinya hubungan badaniah. Sebagai gejala sosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah, karena dewasa ini dengan adanya perkembangan teknologi, orang dapat menyentuh berbagai pihak tanpa menyentuhnya. Dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah bukanlah syarat untuk terjadinya suatu kontak.

Kontak sosial dapat terjadi dalam 3 bentuk :
1) Adanya orang perorangan
Kontak sosial ini adalah apabila anak kecil mempelajari kebuasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui sosialisasi, yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana dia menjadi anggota.

2) Ada orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya
Kontak sosial ini misalnya adalah seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat atau apabila suatu partai politik memkasa anggota-anggotanya menyesuaikan diri dengan ideologi dan programnya.

3) Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.
Umpamanya adalah dua partai politik mengadakan kerja sama untuk mengalahkan parpol yang ketiga di pemilihan umum

Kesimpulan dari arti kontak dalam bahasa latin adalah bersama-sama menyentuh secara badaniah dan di jaman sekarang ini menyentuh bukan lagi dengan fisik melainkan sudah melalui teknologi seperti facebook,twitter,email, dan lain-lain.

Komunikasi dan Kontak Fisik positif secara harafiah tetap menjadi 2 (dua) hal yang dinilai masih menjadi pilar dalam membangun tim juara. Coba bandingkan antara 2(dua) manusia yang hanya berkomunikasi saja tanpa melakukan kontak fisik positif seperti berjabat tangan,merangkul,memeluk dan menempuk pundak sebagai tanda penghargaan atas keberhasilan. Perbedaan yang sangat berbeda akan terjadi di kedekatan secara psikologis dan emosi.

2. Kunci Kedua : Kesamaan Tujuan
Ada pengalaman menarik dari salah satu klien yang memiliki lebih dari 5 pengambil keputusan atau 5 pemilik. Setelah diberikan secarik kertas dan diminta untuk duduk tidak berdampingan, saya meminta mereka untuk menuliskan dengan singkat apa tujuan utama mereka mendirikan bisnis ini. Jawaban mereka semua adalah tidak sama dan sangat menyimpang jauh satu sama lain. Pertanyaannya adalah bagaimana mereka bisa membangun bisnis ini apabila mereka sendiri tidak bisa menyamakan tujuan yang sama. Seperti dalam satu Kapal atau Pesawat yang tidak tahu mau kemana tujuannya.
“Coach,berarti selama ini kinerja tim saya tidak maksimal karena tujuan perusahaan hanya saya saja yang mengerti..”
Sambil menganggukan kepala saya coba menuliskan bahwa dalam membuat suatu tujuan perusahaan itu harus SMART :
1) S – Specific (spesifik)
2) M – Measureable (dapat diukur)
3) A – Achievable (dapat dicapai)
4) R – Result
5) T – Time Framed (dapat hasil dalam kurun waktu yang ditentukan)

“ Bagaimana Pak ? kira-kira dapat pengertian baru dari ini semua ? “
“ Saya dapat Coach ! beberapa pengertian baru, saya harus lebih menyamakan tujuan dengan Tim saya dan SMART dalam membuat tujuan itu..”
“Betul sekali Pak, tapi yang terpenting adalah Tim Bapak harus mendapatkan kejelasan yang sebening Kristal tentang tujuan perusahaan ini..”
Menurut Firmansyah Nugraha, Sebuah team, umumnya memiliki beberapa unsur, yaitu:
* Sekelompok orang
* Memiliki tujuan yang sama
* Ada kerjasama

Berdasarkan unsur-unsur diatas, maka team dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang enerjik dan memiliki komitmen untuk mencapai tujuan umum dengan membangun dan membentuk kerjasama guna memperoleh hasil dengan kualitas tertinggi” atau dengan pengertian lain, team adalah “kumpulan orang-orang yang harus mengadalkan kerjasama grup jika masing-masing anggotanya ingin mengalami keberhasilan dan pencapaian tujuan yang optimum.” Team beranggotakan orang-orang yang dikoordinasikan untuk bekerjasama, yang antara lain memiliki tujuan dan pencapaian target yang sama. Kepuasan yang dicapai melalui sebuah team dihasilkan dari menguatnya sistem nilai seseorang setelah adanya sharing nilai, selain itu individu juga mendapatkan kekuatan psikologis karena adanya kebersamaan.

Tujuan dibentuknya team adalah untuk mengumpulkan sumber daya kolektif guna mencapai keputusan yang lebih baik, dengan asumsi bahwa kemampuan dan pengalaman anggota dapat dimanfaatkan secara optimal. Kombinasi antara skill akan mempermudah proses kerja dan juga akan lebih mampu menciptakan serta mengembangkan gagasan daripada pekerjaan itu dikerjakan sendiri.

“To effectively communicate, we must realize that we are all different in the way we perceive the world and use this understanding as a guide to our communication to others.” – Anthony Robbins

Ada sebuah pepatah yang mengatakan “banyak kerja, sedikit bicara”, yang menggambarkan betapa lebih baiknya bila seseorang fokus dalam melakukan pekerjaan dan tanggung jawabnya, tanpa menghabiskan waktu untuk berbicara hal yangtidak penting. Namun, dalam hal komunikasi, sepertinya pepatah yang lebih cocok adalah “banyak bekerja, efektif berbicara”. Mengapa begitu?

Dalam dunia pekerjaan dan organisasi, tidak ada seorang pun yang bekerja sendirian. Dibutuhkan kemampuan untuk dapat bekerja dalam kelompok, atau team work. Maka, sikap diam dapat sangat mengganggu kinerja kelompok. Sikap ini mengurangi dinamika dan kelancaran arus informasi. Penyelesaian pekerjaan menjadi terhambat karena tidak adanya pertukaran informasi. Dalam tim kerja mutlak dibutuhkan komunikasi yang efektif. Harus ada “yang dikomunikasikan” agar pekerjaan terselesaikan sesuai target, sehingga tujuan bersama dapat tercapai.

Itulah mengapa komunikasi sangat penting dalam sebuah tim kerja. Setiap permasalahan dapat diselesaikan bersama, begitu juga strategi dan cara untuk mencapai tujuan dapat ditemukan bila banyak kepala yang berpikir bersama dengan satu tujuan. Yang terpenting adalah setiap anggota tim memiliki satu pemahaman bahwa komunikasi efektif (komunikatif) meliputi proses mendengarkan, berbicara, dan bertindai untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran dengan tidak memaksakan kehendak dan terbuka terhadap pernikiran orang Iain, demi tercapainya tujuan bersama.

Satu hal yangjuga jangan sampai dilupakan untuk dapat menciptakan suasana yang komunikatif di dalam lingkungan kerja, yaitu kemampuan untuk mendengarkan dan mendapatkan pem3haman. Mendengarkan adalah hadiah terbaik yang dapat diberikan untuk orang Iain. Mendengarkan (listen) bukan sekedar mendengar (hear). Untuk dapat mendengarkan dengan baik, seseorang harus mampu mengesampingkan pola pikir, harapan, paharn yang dianut, dan kesimpulan terlalu dini yang sifatnya menghakimi.

Saat mendengarkan, berkonsentrasi penuhlah pada pesan yang disampaikan oleh lawan bicara. Dengan demikian, apa yang disampaikan si pembicara dapat ditangkap dengan baik.Bahkan yang mendengarkan dapat membantu menjelaskan dan menjernihkan apa yangyangtelah dikatakan, atau menambahkan informasi yang mendukung, sehingga tercapai kesepahaman. Kesuksesan bukanlah hal yang sulit diraih dengan tim kerja yang komunikatif. (Better Health 2012).

Disimpulkan sekali lagi bahwa komunikasi yang baik dan dapat dimengerti sebening Kristal, maka akan dicapai suatu pengertian yang sesungguhnya tentang kesamaan tujuan dalam suatu tim.

3. Kunci Ketiga : Aturan Permainan
Kunci yang berikut ini adalah salah satu kunci pamungkas dalam membangun tim juara yaitu Aturan Permainan dalam suatu perusahaan. Coba anda bayangkan kita didalam sebuah lapangan sepakbola dan melihat bahwa ada garis yang menyatakan bahwa bola dinyatakan keluar lapangan (OUT) apabila melewati garis tersebut. Garis lapangan ini adalah yang kita katakana dalam aturan permainan perusahaan adalah konteks atau aturan ketat (tight rules). Isi dari konteks aturan dalam perusahaan ini adalah budaya/culture setiap perusahaan.
“Hmmm..Coach, setiap perusahaan itu wajib mempunyai budaya untuk mengatur permainan di perusahaan ? Bagaimana cara-nya ?..”
“Begini Pak, Bapak harus membuat budaya perusahaan berdasarkan dari 3 elemen perspektif yaitu Bapak sebagai pemilik, tim perusahaan dan pelanggan perusahaan”
“Oh begitu Coach..”

Berikutnya adalah kalau kita melihat kembali gambaran lapangan sepakbola adalah area permainan itu sendiri. Para pemain dapat bebas mengembangkan pola permainan sehingga dapat memenangkan permainan tersebut. Area tersebut dapat disebutkan sebagai area bebas (loose)atau konten yang terdiri dari semua anggota tim. Disini anggota tim dapat bebas melakukan semua pola permainan aturan perusahaan selama tidak keluar dari konteks atau aturan ketat diatas. Pentingnya aturan permainan ini dibuat supaya semua anggota tim dapat mecapai tujuan perusahaan secara bersama tanpa harus melanggar garis konteks atau aturan ketat yang bukan budaya dari perusahaan.

Glaser dalam (Kreitner dan Kinicki, 2005) menyatakan bahwa budaya organisasi seringkali digambarkan dalam arti yang dimiliki bersama. Pola-pola dari kepercayaan, simbol-simbol, ritual-ritual dan mitos-mitos yang berkembang dari waktu ke waktu dan berfungsi sebagai perekat yang menyatukan organisasi. Beraneka ragamnya bentuk organisasi atau perusahaan, tentunya mempunyai budaya yang berbeda-beda hal ini wajar karena lingkungan organisasinya berbeda-beda pula misalnya perusahaan jasa, manufaktur dan trading.

Menurut Nawawi (2003) yang dikutip dari Cushway B dan Lodge D, hubungan budaya dengan budaya organisasi, bahwa “budaya organisasi adalah suatu kepercayaan dan nilai-nilai yang menjadi falsafah utama yang dipegang teguh oleh anggota organisasi dalam menjalankan atau mengoperasionalkan kegiatan organisasi”. Sedangkan Nawawi (2003) yang dikutip dari Schemerhom, Hurn dan Osborn, mengatakan “budaya organisasi adalah suatu sistem penyebaran keyakinan dan nilai-nilai yang dikembangkan di dalam suatu organisasi sebagai pedoman perilaku anggotanya”.

Menurut Moorhead dan Ricky (1999), memberikan definisi budaya merupakan kumpulan nilai-nilai yang membantu anggota organisasi memahami tindakan yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima dalam organisasi. Nilai-nilai tersebut biasanya dikomunikasikan melalui cerita-cerita atau simbol-simbol lain yang mempunyai arti tertentu bagi organisasi.

Menurut Triguno (2000), bahwa “budaya organisasi adalah campuran nilai-nilai kepercayaan dan norma-norma yang ditetapkan sebagai pola perilaku dalam suatu organisasi.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi yang baik dapat mejadi perekat dan pelumas dalam menjalankan roda mesin perusahaan termasuk untuk membangun tim yang kuat.

4. Kunci Keempat : Rencana Kegiatan Perusahaan
“Coach,saya jadi lebih mengerti mengenai suatu pentingnya aturan permainan..”
“Dengan aturan permainan yang jelas sesuai dengan budaya perusahaan jadi kerja tim bisa lebih terarah menuju tujuan perusahaan yang sesungguhnya..”
“ Ya Betul sekali Pak, Bapak juga bisa membuat sistem ‘reward and punishment’ yang benar-benar jelas..”
Melihat antusias klien saya yang satu ini, kembali saya berdiri dan menuliskan tulisan besar dengan spidol besar warna warni :
WHO DOES WHAT BY WHEN ATAU SIAPA MELAKUKAN APA SAMPAI KAPAN
Arti atau maksud kata-kata diatas adalah memperjelas rencana kegiatan perusahaan yang lebih riil dengan memilah siapa yang akan melakukan kegiatan tersebut,melakukan kegiatan apa dan kapan waktu atau tenggat waktunya.
“Coach, setiap meeting harian di perusahaan saya itu hanya dibicarakan mengenai rencana perusahaan dengan menunjuk siapa yang bertanggung jawab untuk kegiatan tersebut..”
“Itu sudah sangat baik Pak, tapi lebih sempurna lagi harus ditentukan mengenai tenggat waktu atau waktu untuk menyelesaikan kegiatan pekerjaan tersebut..”
“Tenggat waktu sangat penting supaya hasil kerja bisa diukur keberhasilannya atau tidak..”
Menurut Andilee,
1) Dalam perencanaan program kerja komponen-komponen yang harus ada adalah sebagai berikut:
1. pemilihan program kerja prioritas.
2. menganalisa isu
3. menentukan tujuan program kerja.
4. menentukan cakupan program kerja.
5. menentukan garis besar waktu dan pelaksanaan.

2) PROGRAM KERJA PRIORITAS
“nama program kerja”

3) TUJUAN : mengapa punya program kerja ?
1. mendidik / membangun sekelompok ……(siapa)…agar dapat membuat / mengembangkan …(apa)….dengan waktu ….(berapa lama) … dengan harapan terbentuk menjadi….(bagaimana)….dengan segala keterbatasan yang ada.
2. program kerja dapat mengurangi apa ?
3. apa hasilnya untuk organisasi ?
4. apa kelanjutan dari program kerja (terobosan) ?

4) ISU : analisis system.
1. kenapa program kerja ini sampai diajukan ?
2. kelemahan, kekuatan dari organisasi (dari dalam).
3. peluang, ancaman untuk organisasi (dari luar).

5) CAKUPAN : untuk siapa, dan area cakupan seberapa besar ?
1. diperuntukkan untuk siapa ?
2. seberapa besar daerah cakupannya ?

6) WAKTU
1. butuh berapa tahap ?
2. tiap tahap butuh berapa lama ?

Di akhir poin diatas adalah waktu yang harus ditetapkan untuk membuat tenggat dan batasan waktu kerja supaya rencana kegiatan perusahaan dapat diukur tingkat keberhasilan atau kegagalan. Baik keberhasilan atau kegagalan bisa dijadikan kesempatan untuk perusahaan lebih berkembang di masa depan. Jangan melihat kegagalan sebagai masalah, jadikanlah selalu menjadi kesempatan untuk membuat strategi atau rencana baru.

Program Kerja adalah aktivitas yang menggambarkan di muka bagian mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan berikut petunjuk-petunjuk mengenai cara pelaksanaannya. Aktivitas menggambarkan dimuka ini biasanya menyangkut juga jangka waktu penyelesaiannya, penggunaan material dan peralatan yang diperlukan, pembagian wewenang dan tanggung jawab serta kejelasan lainnya yang dianggap perlu.
Program sebenarnya mempunyai ruang lingkup yang lebih besar, bila
program ini diterapkan, ia bersifat menyeluruh atau menggarap semua fungsi
dari sebuah organisasi, program ini akan menjamah semua elemen, unsur
yang harus didayagunakan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja
organisasi tersebut.

Setelah pimpinan orga nisasi menetapkan tujuan dari program dan
menetapkan tindakan apa yang harus dilakukan, maka tindakan yang harus
diambil dalam program kerja dapat di rinci sebagai berikut :

a. Sarana dan Prasarana
Kondisi dan kemampuan semua sarana maupun prasarana yang ada, tujuannya untuk mengetahui apakah sarana dan prasarana tersebut masih layak operasi atau tidak, bila masih layak operasi, maka apa saja perbaikan dan penyempurnaan yang harus dilakukan, untuk menjalankan program 1 tahun ke depan.

b. Metode
Suatu metode yang digunakan dan proses yang dijalankan, untuk menjalankan program kegiatan satu tahun ke depan.

c. Kemampuan Sumber Daya Manusia
Untuk mengetahui kemampuan sumber daya manusia terhadap metode dan proses kerja oleh pimpinan organisasi untuk memenuhi sampai dimana kemampuan anggota pengurus dalam melaksanakan pekerjaannya, maka di butuhkan suatu penyesuaian dengan bidang masing-masing di lapangan, dari penelitian tersebut maka pimpinan akan mampu mengindentifikasi kemampuan pengurus dalam melaksanakan tugasnya.

d. Semangat Kerja
Seorang pimpinan harus mengetahui kondisi pengurus atau sifatsifat bawahan mereka, sehingga seorang pimpinan memberi semangat kerja pada pengurus tentang kebijakan dan sistem imbalan yang mencakup intensif dan penilaian prestasi kerja (artikel internet: id.shvoong)

5. Kunci kelima dan Keenam : Dukungan Pengambilan Resiko dan Keterlibatan 100%
Dua kunci pamungkas terakhir ini adalah kunci untuk membangun rasa memiliki dan sinergi sesama anggota tim. Matlin (1998) menyatakan bahwa situasi pengambilan keputusan yang dihadapi seseorang akan mempengaruhi keberhasilan suatu pengambilan keputusan. Setelah seseorang berada dalam situasi pengambilan keputusan maka selanjutnya dia akan melakukan tindakan untuk mempertimbangkan, menganalisa, melakukan prediksi, dan menjatuhkan pilihan terhadap alternatif yang ada. Arroba (1998) menyebutkan 5 faktor faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan, yaitu: (1) informasi yang diketahui perihal permasalahan yang dihadapi; (2) tingkat pendidikan; (3) personality; (4) coping, dalam hal ini dapat berupa pengalaman hidup yang terkait dengan permasalahan (proses adaptasi); dan (5) culture. Hal senada dikemukakan Siagian (1991) bahwa terdapat aspek-aspek tertentu bersifat internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan.
Adapun aspek internal tersebut antara lain :
• Pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Biasanya semakin luas pengetahuan seseorang semakin mempermudah pengambilan keputusan.
• Aspek kepribadian. Aspek kepribadian ini tidak nampak oleh mata tetapi besar peranannya bagi pengambilan keputusan.

Sementara aspek eksternal dalam pengambilan keputusan, antara lain :
• Kultur. Kultur yang dianut oleh individu bagaikan kerangka bagi perbuatan individu. Hal ini berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan.
• Orang lain. Orang lain dalam hal ini menunjuk pada bagaimana individu melihat contoh atau cara orang lain (terutama orang dekat ) dalam melakukan pengambilan keputusan. Sedikit banyak perilaku orang lain dalam mengambil keputusan pada gilirannya juga berpengaruh pada perilkau individu dalam mengambil keputusan.

Dukungan atas pengambilan resiko dan keterlibatan 100% terhadap semua kegiatan tim akan membangun suatu sinergi. Ketergantungan timbal balik anggota tim tidak serta merta menghasilkan sinergi, terutama ketika satu individu lebih tergantung pada individu yang lain dan ketika setiap anggota memilih untuk memberi yang terbaik untuk tim nya dengan membentuk organisasi. Walaupun lebih mudah untuk menciptakan struktur organisasi yang memerlukan ketergantungan timbal balik diantara anggota tim, namun pencapaian sinergi hasil optimal adalah tugas yang lebih sulit.

The More You Share, The More You Earn

Share Artikelmu Tentang HR
Dapatkan Reward Ekslusif

Gratis sampai kapanpun

Rekomendasi Untuk Anda