Budaya Buruk

SUGENG RIANTO 26 January 2010

Beberapa puluh tahun yang lalu para peneliti melakukan pengamatan terhadap 30 ekor Kera yang dimasukkan dalam satu kandang. Kandang tersebut dibuat sedemikian rupa dengan diberi sebatang tiang ditenghanya. Pada bagain atas dari tiang tersebut digantunglah setandan pisang yang telah masak.

Seketika itu Kera-kera saling berebut naik untuk mengambil pisang. Pada saat yang bersamaan, peneliti menyemprotkan air yang keras dari bagian atas tiang, sehingga mengurungkan keinginan Kera untuk mengambil pisang. Begitu seterusnya setiap ada seekor Kera saja yang naik, langsung disemprotkan air kearah Kera tersebut. Lama-kelamaan Kera-kera jadi takut dan tidak lagi naik mengambil pisang, meskipun pisang-pisang yang jadi pancingannya telah ranum.

Satu per satu Kera-kera diambil dari kandang, diganti Kera baru. Setiap Kera baru dimasukkan dan melihat pisang yang mulai ranum, serta merta sang Kera baru naik untuk memetiknya. Tapi peneliti segera menyemprotkan airnya kembali. Begitu seterusanya, sampai sebelum Kera baru naik untuk mengambil pisang, ditarik ramai-ramai oleh Kera lama sambil seolah-olah bilang ; ” Jangan naik nanti dismprot”.

Dan begitu seterusnya, sampai Kera Lama sebanyak 30 ekor, diganti satu per satu oleh Kera baru selalu Kera Baru ditarik untuk tidak naik.

Keadaan ini menggambarkan bagaimana kebiasaan buruk yang telah membudaya dan menghinggapi setiap insistusi di sekitar kita bahwa setiap ada orang baru/karyawan baru, dengan semangat baru untuk maju, lebih banyak diolok-olok, diejek, bahkan dibenci oleh orang-orang lama yang merasa terusik.

Dirangkum dari tulisan : Rhenald Kasali.

The More You Share, The More You Earn

Share Artikelmu Tentang HR
Dapatkan Reward Ekslusif

Gratis sampai kapanpun

Rekomendasi Untuk Anda