Mencetak Wirausahawan

Prima Tri Anggara 30 January 2010

Mencetak Wirausahawan
Daoed Joesoef

Kebijakan departemen yang menangani pendidikan formal-dulu Depdikbud dan kini Depdiknas-selalu disalahkan sebagai ”produsen” penganggur intelektual. Dari tahun ke tahun fakta pengangguran tersebut memang begitu. Maka pernah ada pikiran supaya kebijakan pendidikan didasarkan atas ide ”link-and-match” ala Jerman, tanpa menyadari kondisi kegiatan produktif yang sangat berbeda antara kedua negeri ini.

Jerman sudah berkembang begitu rupa, hingga barang modal dan semua komponen yang diperlukan untuk mewujudkan investasi praktis sudah dibuat di dalam negeri. Berarti, dari sejak dibuat desain sejenis mesin, sudah bisa diketahui jenis keterampilan teknis menengah dan tinggi yang dibutuhkan. Dan kebutuhan ini langsung dikomunikasikan ke jajaran pendidikan untuk menghasilkannya. Inilah link-and-match antara aksi produksi dan aksi pendidikan.

Di Indonesia, setiap ada investasi, baik oleh pihak asing maupun pribumi, impor barang-barang modal serta komponennya terus melonjak. Bahkan, bahan baku yang diperlukan tidak jarang harus diimpor terus-menerus dari luar negeri. Kalau barang modal itu diimpor pada tahun ”t”, bagaimana kebijakan pendidikan harus bisa menghasilkan orang berketerampilan teknis yang diperlukan di tahun ”t” itu juga. Maka itu, tidak mungkin terwujud link-and-match. Untuk ”memproduksi” teknisi menengah saja sudah harus dimulai di tahun t-12 atau t-17 untuk teknisi tinggi.

Yang seharusnya mengatakan kebutuhan akan teknisi ini, untuk Indonesia adalah Bappenas. Bukankah lembaga ini yang bertugas membuat rencana pembangunan yang (seharusnya) menyeluruh. Di negeri mana pun, Departemen/Kementerian Pendidikan bukan lembaga yang menyiapkan lapangan kerja, employment opportunities, bagi rakyatnya. Ini adalah tugas departemen dan lembaga yang atas nama dan untuk pemerintah melaksanakan pembangunan ekonomi atau pembangunan nasional.

Alih-alih menyalahkan Departemen Pendidikan karena orang-orang yang dididiknya kemudian menganggur berhubung keterampilan/keahliannya tidak cocok dengan kebutuhan dunia bisnis/industrial berikanlah kepadanya hak untuk turut menangani masalah employment melalui keikutsertaannya membuat ”cetak biru” pembangunan nasional, termasuk pembangunan ekonomi. Berarti, ia sebaiknya dikelompokkan tidak di bidang kesra tetapi di bidang ekonomi.


Menciptakan ”Employment”

Sekarang semakin gencar tuntutan pada Depdiknas untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan. Sampai Presiden meminta upaya lembaga ini mengubah metodologi belajar mengajar demi ”mencetak” wirausahawan (entrepreneur) pada khususnya dan pebisnis (businessman) pada umumnya. Memang, Negara-Bangsa kita memerlukan keberadaan wirausahawan, yang tidak hanya mampu mencari kerja untuk dirinya sendiri, tetapi lebih daripada itu bisa menciptakan employment bagi orang-orang lain.

Namun, lagi-lagi ada kekeliruan pandangan tentang natur dari pendidikan formal dalam hal ini. Pendidikan formal, di mana pun, tidak bisa mencetak wirausahawan, walaupun selama proses pendidikannya sudah dilakukan training berwirausaha melalui pusat-pusat kewirausahaan yang relevan di setiap jenjang pendidikan. Tidak bisa karena berwirausaha/berbisnis adalah suatu ”kiat”. Entrepreneurship, business activity, is an art. And you can never teach art. ”Art” baik dalam artian ”kiat” (yang lebih banyak terkait dengan nalar) maupun dalam artian ”seni” (yang lebih banyak berurusan dengan perasaan), tidak bisa diajarkan.

Yang dapat diajarkan adalah teknikalitas yang berkaitan dengan praksis kiat/seni. Teknik ”marketing” atau ”management”, misalnya, dapat diajarkan tetapi kepiawaian berbisnis tidak dapat. Teknik menggesek biola dapat diajarkan, tetapi seni bermain biola tidak dapat. Bila dapat, semua violis lulusan Akademi Musik yang sama tentu bisa menjadi ”seniman musik” yang setara. Ini juga berlaku bagi berbagai jenis profesi tertentu seperti kedokteran, kenjenderalan (warriorship). Sudah sejak di zaman Yunani Purba dikatakan bahwa ”medicine is an art”, namun teknikalitas (pengetahuan ilmiah) yang berkaitan dengan praktek penyembuhan bisa diajarkan. Demikian pula dengan peperangan yang selalu diuraikan sebagai ”the art of war”, bukan sebagai ”the knowledge of war”. Yang terakhir ini terkait dengan profesi dosen di Akademi Militer atau sejarahwan peperangan atau ”desk generals”, bukan ”Feldherren”.

Namun, walaupun kiat/seni (art) tidak bisa diajarkan, ia bisa dipelajari oleh orang-orang yang ingin menjadi seniman, wirausahawan, dokter, jenderal. Dia bisa menjadi violis yang baik, pebisnis yang baik, dokter/ahli bedah yang baik, ahli perang yang baik, asal dan selama dia berusaha sendiri untuk menguasai jiwa keprofesian itu, berdasarkan teknikalitas yang sudah dikuasainya, dan dengan cermat memperhatikan para ”artis” yang sudah sukses di bidang profesinya masing-masing. Pembelajaran formal dan training praktis saja tidak cukup.

Salah satu sebab pokok kesuksesan se- orang entrepreneur adalah ”her/his ability to endeavor an uncommon application of a common knowledge”. Hal ini bisa terjadi bukan karena dia berbakat bisnis tetapi karena dia berwawasan luas, bisa melihat ”the big picture”, gambaran yang menyeluruh dengan segala kaitan dan simpulnya, yaitu yang tak lain daripada berpikiran yang mencerahkan.


Memecah Masalah

Demi memperoleh ”keahlian/kepakaran” di bidang tertentu, ”keterampilan khusus”, ”kejujuran teknis”, anak didik dibiasakan memecah-mecah masalah menjadi beberapa bagian, memfragmentasi dunia. Tujuan perbuatan ini adalah demi mempermudah penanganan sesuatu tugas serta kompleks. Kita tidak menyadari betapa mahal harga yang tersembunyi dari perbuatan ini, yaitu kita tidak bisa lagi melihat keseluruhan konsekuensi dari perbuatan kita. Kita kehilangan kesadaran intrinsik tentang keterkaitan dalam suatu keseluruhan yang luas.

Lalu ketika kita tersentak sadar dan berusaha ”to see the big picture”, gambaran besar yang menyeluruh, kita berusaha menyusun kembali pecahan-pecahan (fragments) dalam pikiran kita. Namun, bukanlah usaha ini bagai menyusun kembali beling-beling dari sebuah cermin yang pecah untuk melihat refleksi diri yang benar. Kalaupun kita bisa bercermin di situ, yang kita lihat pasti suatu refleksi yang ”aneh”. Akhirnya kita menyetop saja usaha ”to see the whole altogether”.

Dunia tidak tercipta dari kekuatan-kekuatan yang terpisah, tidak berkaitan satu sama lain. Bila awan menebal, langit menggelap, guruh menggelegar, dedaunan melintir ke atas, kita tahu akan turun hujan. Sesudah hujan-angin reda ari yang tercurah dari langit akan meresap ke bumi dan menambah debit air tanah di dalam tanah yang terletak nun jauh di sana, ratusan kilometer dari lokasi hujan, dan langit akan cerah kembali keesokanharinya. Semua peristiwa ini terjadi di tempat yang jauh dipandang dari sudut waktu dan ruang, namun sebenarnya berkaitan di dalam pola yang sama. Masing-masing saling mempengaruhi, suatu pengaruh yang bisanya tidak kelihatan. Kita baru memahami sistem suatu hujan-angin hanya dengan merenungi keseluruhannya, bukan bagian individual apa pun dari pola itu.

Untuk mendapatkan sebutir telur cukup diperlukan seekor ayam. Namun untuk membuat telur itu sampai ke mulut konsumen dibutuhkan kira-kira 6 orang berjiwa entrepreneur di aneka bidang usaha. Kalau turut dihitung jumlah pebisnis yang terlibat sebelum ayam yang satu itu bisa bertelur, jumlah jenis profesional di bidang pengadaan telur bisa lebih banyak lagi. Presiden sehat karena memakan telur. Salah satu unsur gajinya dari pajak yang dipungut dari semua individu yang terlibat dalam bisnis perteluran ini. Dan semua ini baru bisa disadari bila kita lihat aksi-aksi berbeda dalam pola bisnis tersebut sebagai suatu keseluruhannya.

Bisnis ini pada umumnya, kewirausahaan pada khususnya, in fact semua dan setiap usaha manusia adalah juga sistem. Semua upaya itu dikaitkan oleh jejaring yang tidak kelihatan dari aksi-aksi yang saling berhubungan, yang kadang-kadang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa memantapkan efeknya atas satu sama lain.

Mengingat kita sendiri merupakan bagian dari jajaran itu, memang sulit menyadari keseluruhan pola perubahan. Kita malah cenderung memfokuskan perhatian pada penampilan sesaat dari bagian-bagian yang terpencil dari sistem dan bertanya-tanya mengapa masalah kita yang penting tidak kunjung teratasi. Adalah perpikir yang mencerahkan, yang berintikan system thinking, yang perlu diajarkan dan bisa diajarkan kepada anak didik dalam rangka persiapannya menjadi wirausahawan atau pebisnis, bukan art.

The More You Share, The More You Earn

Share Artikelmu Tentang HR
Dapatkan Reward Ekslusif

Gratis sampai kapanpun

Rekomendasi Untuk Anda