Pengembangan UMKM Hindari Pendekatan Proyek

Prima Tri Anggara 25 January 2010

Pengembangan UMKM Hindari Pendekatan Proyek


BANK Indonesia (BI) Kupang menawarkan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu untuk mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Begitu berita harian ini akhir pekan lalu. Ini suatu tawaran sangat bagus dalam upaya mendukung pembangunan ekonomi, khususnya usaha-usaha sektor riil di daerah itu.
Pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Belu perlu merespons tawaran tersebut dengan memberikan dukungan, antara lain, data mengenai potensi usaha yang ada di Belu. Respons dan dukungan pemerintah bersama masyarakat Belu dengan harapan rencana strategis itu bisa membawa perubahan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Belu pada masa-masa mendatang.

Manajemen BI Kupang memilih Belu untuk mengembangkan rencana itu tentu sudah melalui perencanaan dan pertimbangan yang matang. Pertimbangan itu bisa saja karena Belu memiliki potensi usaha kecil dan menengah yang dapat dikembangkan.

Selain itu, posisi Belu yang strategis di perbatasan dua negara, Indonesia dan Timor Leste, tentu menjadi salah satu pertimbangan dari manajemen BI Kupang. Posisi ini merupakan peluang bagi perdagangan antar-negara di masa mendatang. Pertimbangan itu dengan asumsi ketersediaan komoditi dari hasil pengembangan UMKM nanti bisa dipasarkan ke Timor Leste.

Jika pasaran ekspor ini menjadi salah satu obsesi jangka menengah atau jangka panjang dari rencana pengembangan UMKM tersebut, maka kualitas produk dari usaha yang dikembangkan menjadi salah satu syarat penting diperhatikan. Di samping itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) pengelola UMKM juga jangan diabaikan oleh manajemen BI Kupang dan Pemkab Belu. Maksudnya, kelompok masyarakat yang akan dilibatkan dalam pengembangan usaha nanti perlu dibekali dengan ilmu dan keterampilan sesuai bidang usaha yang dikembangkan.

Hemat kita, persiapan SDM yang memadai sangat penting agar usaha yang dikelola bisa berjalan lancar dengan harapan dapat menghasilkan produk-produk yang berkualitas dan berorientasi ekspor.

Untuk itulah sehingga manajemen BI Kupang sebelum merealisasikan rencana mengembangkan UMKM di Belu, perlu melakukan pertemuan dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Pertemuan itu membahas berbagai langkah yang akan dilakukan untuk melaksanakan program tersebut. Kita menilai pertemuan itu sangat penting guna mencegah sejak dini terjadinya silang pendapat atau benturan lainnya ketika program pengembangan UMKM sudah dilaksanakan nanti.

Ada hal lain yang perlu diperhatikan, yakni mereka yang dilibatkan dalam program pengembangan UMKM jangan pilih kasih. Jangan hanya orang-orang tertentu yang dekat dengan pengambil kebijakan, tetapi merangkul semua masyarakat petani dengan membentuk kelompok usaha. Dengan demikian, sasaran program untuk memperbaiki kehidupan masyarakat ekonomi lemah bisa terwujud.

Kita perlu ingatkan agar pengembangan usaha tersebut perlu diikuti metode pendampingan terhadap kelompok-kelompok pengelola UMKM. Sebab, dikhawatirkan jika usaha yang dikembangkan tidak diikuti dengan pola pendampingan, maka usaha yang dikembangkan tidak memuaskan, terutama dari aspek kualitas produk. Kita menyoroti ini karena pengalaman selama ini ada banyak usaha yang dikembangkan dan didanai oleh pemerintah daerah, kurang memberikan hasil yang memuaskan. Hal ini karena pengucuran dana pengembangan usaha tidak diikuti dengan pola pendampingan terhadap kelompok masyarakat yang dilibatkan.

Kita juga sangat berharap agar dalam pengembangan UMKM di Belu hendaknya menghindari pendekatan proyek, seperti yang sering dipratekkan oleh pemerintah selama ini. Ada kelemahan jika kita menggunakan pendekatan proyek, yakni ketika usaha itu sudah diresmikan, setelah itu dibiarkan berjalan tanpa pendampingan dan pengawasan. Tak heran cukup banyak usaha yang didanai pemerintah tidak memberikan hasil bagi perbaikan dan peningkatan hidup masyarakat.

Karena itu, manajemen BI dan Pemkab Belu perlu mengawasi pelaksanaan UMKM yang akan dikembangkan. Kita percaya apa yang dilakukan BI Kupang akan memberikan dampak positif bagi masyarakat di daerah itu. Rasa percaya ini karena BI Kupang berhasil mengembangkan potensi sumber daya alam (SDA) di Desa Ile Padung, Kecamatan Lewo Lema, Kabupaten Flores Timur. Desa Ile Padung sejak tahun 2006 lalu menjadi desa binaan BI Kupang. Sasaran program desa binaan ini, yakni meningkatkan produktivitas dan kemandirian desa melalui pengelolan potensi SDA yang ada di desa tersebut.
(pos kupang.com)


The More You Share, The More You Earn

Share Artikelmu Tentang HR
Dapatkan Reward Ekslusif

Gratis sampai kapanpun

Rekomendasi Untuk Anda