Piawai Berbicara di Depan Publik

Prima Tri Anggara 25 January 2010

Piawai Berbicara di Depan Publik

DI dunia profesional, kemampuan berbicara di hadapan publik (public speaking) seperti pidato atau presentasi menjadi poin tersendiri dalam menilai kualitas seseorang. Sayangnya, tidak semua orang cukup berbakat melakukannya. Tak jarang, rasa cemas dan gugup begitu menghantui sehingga membuat kita terdiam tidak berkutik.

Ikuti sejumlah tip berikut untuk mengenyahkan kecemasan sekaligus memenangkan perhatian audiens saat melakukan public speaking:

1. Kenali audiens
Pertanyaan pertama yang harus ditanyakan kepada diri sendiri adalah mengenai peran Anda sebagai pembicara. Apakah Anda berada di sana untuk menghibur audiens atau menjadi mentor mereka? Apakah Anda harus mengajari mereka keahlian tertentu atau apa? Ketika Anda telah mengenali peran sendiri di sana, akan lebih mudah menentukan apa yang harus disampaikan dan apa yang tidak perlu diutarakan.

Selain itu, pemilihan nada dan kosa kata yang digunakan juga harus disesuaikan dengan jenis penonton. Anda tidak mungkin berbicara di hadapan sekelompok CEO dengan cara yang sama dengan ketika Anda berbicara di hadapan sekelompok pegawai magang.

2. Membuat catatan
Jika sebelumnya Anda telah mengetahui harus berbicara dalam sebuah acara, persiapkan diri dengan menulis catatan mengenai poin-poin penting yang ingin disampaikan dalam pidato. Tulis garis besarnya saja sebagai panduan agar Anda tidak kehilangan kata-kata saat berbicara di depan banyak orang.

3. Sembunyikan kegugupan
Jangan biarkan audiens mencium kegugupan Anda meskipun jantung berpacu cepat dan telapak tangan berkeringat dingin. Bahkan pembicara berpengalaman pun menemukan dirinya dicekam kecemasan sebelum memberikan pidato. Untuk mengatasinya, tarik nafas panjang dan berusahalah terlibat dalam percakapan ringan dengan orang-orang sebelum berpidato untuk membuat diri relaks.

Jangan terlalu khawatir diri melakukan sesuatu yang konyol atau salah mengucapkan satu dua kata. Jika kesan keseluruhan baik, audiens akan melupakan kesalahan Anda. Coba memandang audiens sebagai sekelompok teman dekat yang Anda kenal baik.

4. Membangun hubungan
Sangat penting membuat penonton terus merasa tertarik sepanjang pidato. Anda tentu tidak ingin menangkap basah mereka tertidur karena bosan. Dalam sebagian besar kasus, humor yang disisipkan dalam konteks yang tepat selalu mampu membangun suasana. Jika menggunakan data statistik, usahakan mengungkapkannya seminimal mungkin.

Selain itu, akan sangat membantu jika pidato yang disampaikan didukung dengan presentasi visual sehingga audiens bisa lebih fokus memperhatikan.

5. Tampil natural
Sebagian pembicara berusaha keras membuat audiens terkesan dengan menggunakan banyak gerakan tangan dan bahasa tubuh lainnya. Jika dilakukan secara alami memang tidak ada salahnya. Akan tetapi, jangan berusaha terlalu keras karena akan terlihat aneh dan tidak wajar. Audiens lebih suka melihat pembicara yang natural dan menunjukkan diri apa adanya.(media Indonesia.com)

The More You Share, The More You Earn

Share Artikelmu Tentang HR
Dapatkan Reward Ekslusif

Gratis sampai kapanpun

Rekomendasi Untuk Anda