Becoming An Effective Leader

wahyudi hari siswanto 04 January 2010

Sahabat yang Mulia..

Beberapa saat yang lalu baru saja kita mendengar ada terobosan baru yang diambil pemerintah dalam hal ini kementrian BUMN di mana di salah satu BUMN penghasil setrum di tanah air yaitu PLN, telah terjadi pergantian pucuk pimpinannya.
Hal ini baru karena baru kali ini dipegang oleh figur yang tidak berlatar belakang listrik, yaitu Pak Dahlan Iskan (DI) sehingga muncul adanya kontroversi terkait kompetensi beliau terhadap bidang garap yang baru yaitu listrik. Terlepas dari kontroversi soal “serahkan urusan pada ahlinya” yang notabene ”insinyur listrik adalah ahlinya” , ada baiknya kita coba pelajari figure DI yang mana bisa menjadi pelengkap materi kuliah dari sisi non technical skill. bagi kampus penghasil insinyur di Indonesia.
Menurut informasi DI terpilih sebagi Dirut PLN karena ide-ide nya yang “radikal” yang diharapkan bisa memperbaiki ”kinerja” PLN. Tapi dalam padangan saya factor leadership yang effective lah yang bisa mengantarkan beliau seperti saat ini.

Ada 5 faktor yang bisa kita jadikan acuan leader yang effective:

1.FOKUS: saat awal berkarir di JP mungkin DI tidak pernah berfikir memiliki JP, memiliki media TV, memiliki gedung media centre, memiliki pabrik percetakan dan bahkan menjadi Dirut Pabrik Setrum. DI mungkin hanya berfikir bagaimana focus bekerja membesarkan JP sehingga urusan mulai bagaimana dapur berasap sampai menjadi makanan DI sangat paham betul. Bandingkan dengan yang pernah saya alami (mungkin jg.banyak dialami pembaca): Kuliah Teknik 5 tahun, 5 tahun itu pula berkarir sampai menjadi “pejabat mahasiswa di koperasi mahasiswa” akhirnya lulus sebagai instrument engineer, 2 tahun kerja sebagai electronics engineer di pabrik elektronik, kemudian 2 bln.sbg.network engineer di provider internet, dan sekarang 5 tahun di jasa pembiayaan. Untuk posisi Dirut PLN saat ini, DI mgk.akan menghadapi kondisi “No control-No Influence, No Control-Has influence, dan Has Control” dan nanti public yang akan menilai leadershipnya ini apakah akan bisa mengaplikasikan ide-idenya yang “radikal” dalam memperbaiki ”kinerja” PLN.

2.DISIPLIN: DI sangat disiplin dan pekerja keras dlm.menjalankan pekerjaannya.Dalam berita yang pernah saya baca,jam kerjanya di awal karir adalah 5 tahun x 12 bulan x 5 minggu x 7 hari x 24 jam.

3.TRUST: sejauh berita yang pernah saya baca, bisnis yang dijalankan DI belum pernah ada yang controversial.Padahal untuk sekelas JPNN tentunya tidaklah mudah menghindari kontroversi kl.memang tidak benar-benar relatif bersih.

4.KOMUNIKASI: hal yang menarik dari DI adalah kemampuannya mengkomunikasikan permasalahan kepada orang awam. Beberapa ulasannya tentang krisis ekonomi beberapa waktu silam sangat mudah dipahami bagi kebanyakan orang walaupun bukan pakar ekonomi dan mungkin juga pemaparannya juga belum sepenuhnya benar. Salah satu key point nya adalah “logika” harus jalan entah dengan bahasa teknis yang sangat rumit sekalipun maupun dengan bahasa yang sangat awam kalau 1+1 adalah 2 walaupun diolah dengan bahasa integral rangkap berapapun. Jadi kalau Kaltim krisis listrik padahal kaya batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik itu tidak masuk akal baik dipahami oleh ahli listrik manapun maupun orang yang tidak ngerti setrum sekalipun. Dan ini adalah komunikasi yang paling efektive dalam manajemen kepemimpinan yang pernah saya pelajari.

5.SINERGY: sesorang apalagi jika berangkat dari kontroversi untuk diminta memperbaiki kondisi perusahaan tentunya akan dinilai gagal jika 1+1 = 2. Yang diharapkan tentunya adalah 1+1 = 3, 4, 5 atau kalo bisa 10 sekaligus. Nah kemampuan DI dalam mengembangkan lebih dari 100 perusahaan dalam bidang diluar koran yang menjadi core bisnisnya dalam rentang waktu 20 tahunan inilah yang diharapkan bisa memperbaiki kinerja PLN dalam waktu yang relatif cepat. Kalo yang satu ini memang dibutuhkan diluar logika 1+1 = 2, dan DI sudah membuktikannya di JPNN, bukankah kalo 1 tahun 1 perusahaan, selama 20 tahunan lebih dari 100 perusahaan juga diluar logika?

Jadi prinsipnya banyak orang sudah berada pada posisi pimpinan, tapi belum semuanya punya 5 aspek kepemimpinan yang effective seperti diatas, dan memang pemimpin tidaklah dilahirkan tapi dibentuk oleh diri kita sendiri dan kemampuan kita mempengaruhi lingkungan untuk membentuk kita menjadi pemimpin yang effektif.

Jadi bekerja dan belajarlah terus, terus dan terus…karena kita semua adalah pemimpin, minimal bagi diri kita sendiri.

Sahabat yang Mulia, Salam Hangat..
Sukses di Tangan Anda

Wahyudi Hari Siswanto
Praktisi dlm.industri jasa pembiayaan

The More You Share, The More You Earn

Share Artikelmu Tentang HR
Dapatkan Reward Ekslusif

Gratis sampai kapanpun

Rekomendasi Untuk Anda