Membangun Kepemimppinan di Perusahan

sihar harianja 05 March 2010


KEPEMIMPINAN
Leadership is “an attempt to use influence to motivate individuals to accomplish some goals”(Gibson,1997)

Seorang manajer/supervisor diharapkan dapat menjadi seorang pemimpin yang mampu menggerakkan (memotivasi) bawahannya untuk mencapai sasaran (dapat mengubah potensi kelompoknya menjadi kenyataan / realitas melalui kerjasama anggota kelompok).
Keberhasilan untuk memimpin tergantung dari interaksi yang terjadi antara bawahan, atasan dan situasi kondisi dalam lingkungan kerjanya.


FUNGSI KEPEMIMPINAN

FUNGSI KEPEMIMPINAN
Untuk dapat memenuhi tugas seorang pemimpin mempunyai beberapa macam fungsi yang harus dilaksanakan:

1. Fungsi Perencanaan
Pemimpin akan memperoleh keuntungan apabila ia membuat suatu perencanaan dengan baik, oleh karena :

a. Perencanaan berarti secara terus-menerus melihat kedepan, menyusun dimuka hal-hal yang perlu sampai kepada yang sekecil-kecilnya dan menentukan garis-garis kebijaksanaan.
b. Perencanaan adalah pemikiran, mempelajari atau menganalisa situasi-situasi dalam pekerjaan, serta memutuskan apa yang harus dilakukan.
c. Perencanaan berarti pemikiran jauh kedepan disertai keputusan-keputusan yang berdasarkan atas fakta-fakta yang diketahui.
d. Perencanaan berarti bahwa seseorang harus menempatkan diri sendiri ke dalam situasi-situasi pekerjaan.

Lazimnya perencanaan itu ada dua macam, yaitu :
1) Perencanaan yang tidak tertulis mungkin sekali akan dipergunakan dalam :
a. Perencanaan jangka pendek.

b. Keadaan darurat.

c. Perencanaan mental terus-menerus yang digunakan dalam segala kegiatan perencanaan.


2) Perencanaan yang tertulis mungkin sekali akan digunakan dalam :

a. Menentukan prosedur-prosedur yang diperlukan.

b. Perencanaan jangka panjang.

c. Perencanaan bagi pekerjaan-pekerjaan yang perlu dilakukan.



2. Fungsi Memandang Ke Depan

Seorang pemimpin harus memiliki pemikiran dan penglihatan yang mampu meneropong apa yang akan terjadi dan segala kemungkinan yang akan terjadi. Senantiasa memandang ke muka berarti selalu waspada terhadap segala kemungkinan.

Pemimpin harus mempunyai kepekaan yang cukup terhadap perkembangan dalam masyarakat. Ia harus dapat memikirkan bahwa suatu masalah yang pada suatu waktu hanya kecil saja artinya, apabila dibiarkan dan sempat berlangsung akan berkembang menjadi masalah besar yang dapat menghalangi jalannya pekerjaan, bahkan mungkin akan menyebabkan hambatan besar yang biasa dinamakan krisis yang tidak dapat dielakkan lagi.


3. Fungsi Melatih dan Membina

Pemimipin harus bertanggung jawab dalam membimbing dan melatih anak buahnya agar kemampuan mereka terus meningkat


4. Fungsi Pengembangan Loyalitas

Fungsi keempat dari kepemimpinan ialah pengembangan loyalitas atau kesetiaan pada karyawan dan pengikut kepada pemimpin dan organisasi.
Seorang pemimpin harus mampu menciptakan rasa cinta, rasa hormat dan kepercayaan terhadap organisasi, kelompok dan pemimpin serta tugas dan pekerjaannya. Dengan timbulnya rasa cinta dan hormat inilah maka mereka akan percaya dan patuh serta akan tetap setia.
Seorang pemimpin harus memberikan teladan dalam pikiran, kata-kata dan tingkah lakunya sehari-hari yang menunjukkan bahwa ia sendiri tidak pernah mengingkari atau menyeleweng dari loyalitas.


5. Fungsi Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Rencana
Fungsi kepemimpinan selain membuat rencana juga mengawasi apakah rencana dilaksanakan sebagaimana mestinya sampai tercapainya tujuan yang telah ditentukan. Tugas mereka yang duduk dibagian puncak piramida organisasi selalu meneliti kemajuan terlaksananya rencana.

Hambatan-hambatan dan masalah-masalah atau kesulitan-kesulitan yang timbul harus segera dihilangkan dan dipecahkan, sehingga segala sesuatu kembali berjalan menurut rel yang sudah ditentukan dalam rencana.


6. Fungsi Mengambil Keputusan
Fungsi selanjutnya dari seorang pemimpin adalah pengambilan keputusan. Mengambil keputusan yang tepat tidak selamanya mudah untuk pemimpin. Karena sulitnya itu maka tidak jarang terjadi seorang pemimpin yang kurang pandai terpaksa menunda-nunda keputusan yang ia harus ambil, sehingga masalahnya menjadi terkatung-katung.
Untuk setiap pengambilan keputusan selalu diperlukan suatu kombinasi yang baik antara:

1. Perasaan, firasat, feeling atau intuisi.

2. Pengumpulan, pengolahan, penilaian dan interpretasi fakta-fakta secara rasionil-sistematis.

3. Pengalaman.

4. Kewibawaan atau pengaruh yang dimiliki pengambilan keputusan, dan

5. Wewenang atau kekuasaan formal yang dipunyai oleh pengambil keputusan.


7. Fungsi Memotivasi Untuk Hasil Terbaik
Seorang pemimpin harus mampu memimpin, mengarahkan dan memotivasi bawahannya untuk bekerja secara efektif agar mencapai hasil yang terbaik

8. Memberi Anugerah
Fungsi selanjutnya dari seorang pemimpin adalah memberi anugerah dalam arti ganjaran / hadiah / pujian dan hukuman. Sebagai pucuk pimpinan dan pengawas ia harus aktif mengawasi segala kegiatan para anggota dalam organisasi yang dipimpinnya, dan penuh atensi


FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FUNGSI KEPEMIMPINAN

1. Ciri-ciri pribadi yang diharapkan dari pemimpin
a. Taraf intelegensi / kemampuan yang lebih dari bawahannya, terutama dalam menganalisis masalah.
b. Mempunyai minat yang luas, antusias, percaya diri, konsisten, jujur (integritas), stabil, hangat, dan rela berkorban.
c. Mempunyai motivasi dari dalam (diri sendiri) yang mendorongnya untuk tetap berusaha.
d. Mempunyai pengertian / sikap yang positif mengenai orang lain dan menghargai hubungan antar manusia.

2. Kelompok yang dipimpin
Kumpulan dari ciri-ciri pribadi pemimpin seperti yang disebutkan di atas tidak akan ada gunanya sebelum ia dapat menggunakannya sebagai alat untuk menggerakkan bawahannya mencapai tujuan tertentu. Seorang pemimpin yang baik diharapkan mengenal bawahannya dengan baik sehingga ia dapat menggunakan cara-cara yang lebih tepat dalam memotivasi orang secara individual maupun kelompok.

3. Situasi
Sebenarnya tidak ada cara memimpin yang tidak baik. Pada hakekatnya semua cara / pendekatan dalam memimpin adalah baik, hanya saja efektivitasnya tergantung dari bagaimana penerapan cara-cara tersebut pada berbagai situasi / kondisi yang berbeda-beda. Yang diharapkan adalah adanya fleksibilitas dari sang pemimpin, yaitu mampu menggunakan cara-cara memimpin yang tepat dalam situasi tertentu.

PERANAN SEORANG PEMIMPIN
a. Sebagai seorang pencipta
Seorang pemimpin harus mampu mencetuskan pikiran atau ide baru. Ia harus mempunyai konsepsi yang baik, tersusun rapi dan realistis, sehingga ia menjalankan tugasnya dengan teguh menuju ke arah ide yang telah ia cetuskan itu dan tidak akan mudah terpengaruh oleh pikiran-pikiran orang lain.

b. Sebagai seorang perencana
Pemimpin hendaknya mampu membuat rencana yang tersusun baik menurut fakta-fakta yang objektif tentang masalah yang dipimpinnya, sehingga segala kegiatan dan tindakannya bukan dilakukan dengan sembarangan, akan tetapi serba teratur dan telah diperhitungkan terlebih dahulu dengan tujuan yang ditentukan.

c. Sebagai wakil kelompok
Seorang pemimpin tidak saja hanya memikirkan dan bertindak untuk mengajak, mengarahkan, mengatur, membimbing dan mengawasi ke dalam terhadap anak buah organisasi akan tetapi ia harus mewakili kelompoknya keluar. Ia senantiasa harus berusaha agar pandangan pihak luar terhadap kelompok tetap baik. Pemimpin bukanlah seorang yang berdiri di luar kelompok. Dengan demikian maka segala pikiran, usaha dan tindakannya hendaklah dilakukan demi tujuan kelompoknya.

d. Sebagai pengawas hubungan antar anggota-anggota kelompok
Pimpinan harus menjaga jangan sampai terjadi perselisihan dan berusaha menciptakan serta mengembangkan hubungan baik yang harmonis di antara para anggotanya, sehingga menimbulkan semangat bekerja kelompok.

e. Bertindak sebagai wasit atau hakim
Dalam menyelesaikan perselisihan atau menangani permasalahan antar anggota kelompok, seorang pemimpin harus dapat menengahi dengan bertindak tegas secara obyektif tanpa pilih kasih atau memihak kepada salah satu golongan.

f. Sebagai pemegang tanggung jawab kelompok
Seorang pemimpin yang baik ia harus berani bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan anak buahnya yang dilakukan atas nama kelompok.

g. Bertindak sebagai seorang ayah
Ia menaruh cinta kasih terhadap para anggota sesuai dengan sikap seorang ayah terhadap anak kandungnya. Ia bersikap melindungi mereka pada tempatnya serta selalu memperhatikan nasibnya.

h. Sebagai korban atau “kambing hitam”
Seorang pemimpin harus menyadari bahwa dirinya merupakan tempat melemparkan keburukan-keburukan dan kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam organisasinya.

TUGAS PEMIMPIN

1. Mempertahankan dan memelihara keanggotaan.
2. Mencapai tujuan kelompok.
3. Fasilitator dari interaksi manusia.

PERILAKU PEMIMPIN

Gaya seseorang dalam memimpin dipengaruhi oleh bagaimana sikap atau perilakunya terhadap tugas dan manusia. Ada 2 perilaku pemimpin yaitu:
1. Perhatian terhadap tugas
Yaitu besarnya perhatian terhadap pelaksanaan tugas. Pemimpin yang mempunyai perhatian tinggi terhadap tugas cenderung untuk menggunakan komunikasi satu arah dan memberikan instruksi secara terinci.

2. Perhatian terhadap manusia
Yaitu besarnya perhatian pemimpin terhadap pelaksana dalam menjalankan tugasnya. Pemimpin yang mempunyai perhatian tinggi terhadap manusia cenderung untuk menggunakan komunikasi dua arah dan banyak memberikan bimbingan dan dukungan emosional. Dalam hal ini situasi bawahan seringkali juga tidak menentu. Untuk itu pimpinan harus mampu menyesuaikan gayanya terhadap situasi kelompok yang dipimpinnya.

Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pemimpin biasanya mengkombinasikan perhatian terhadap tugas dan manusia pada tingkat yang berbeda-beda. Ada pemimpin yang cenderung untuk orientasi / perhatiannya terhadap tugas tinggi dan terhadap manusia rendah. Ada yang sebaliknya yaitu lebih banyak memperhatikan unsur manusia dan ada pula yang mencoba menyeimbangkan kedua faktor tersebut.

GAYA KEPEMIMPINAN

Secara garis besar gaya kepemimpinan yang digunakan orang dengan mengkombinasikan perhatiannya terhadap tugas dan manusia dapat dikelompokkan menjadi empat (4) gaya.
1. Gaya Kepemimpinan Instruktif ( Telling )
Pemimpin dengan gaya ini menaruh perhatian tinggi terhadap tugas, tetapi sebaliknya perhatiannya terhadap manusia rendah.
Ciri-cirinya adalah :
b. Komunikasi satu arah.
c. Memberikan instruksi secara terinci.
d. Kurang memberi perhatian terhadap masalah manusia.
e. Penekanan pada penyelesaian tugas menurut cara-cara yang diinginkan si pemimpin.
f. Inisiatif banyak pada pemimpin.
g. Keterlibatan pemimpin cukup besar.

2. Gaya Kepemimpinan Persuasif (Selling)
Pemimpin dengan gaya ini menaruh perhatian tinggi terhadap tugas maupun unsur manusia.
Ciri-cirinya adalah :
a. Berusaha untuk menjual ide pada bawahan.
b. Komunikasi dua arah untuk meyakinkan bawahan.
c. Inisiatif tetap pada atasan, tetapi keterlibatan bawahan cukup besar dalam arti memberikan kesempatan untuk berargumentasi / berdiskusi.
d. Pemimpin banyak memberikan bantuan.

3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Pemimpin dengan gaya ini menaruh perhatian tinggi terhadap manusia, tetapi terhadap tugas rendah.
Ciri-cirinya adalah :
a. Komunikasi dua arah.
b. Keputusan dibuat bersama kelompok.
c. Pemimpin lebih bersikap sebagai pengambil inisiatif dan fasilitator.
d. Keterlibatan pemimpin dalam penyelesaian tugas sedikit.


4. Gaya Kepemimpinan Delegasi
Pemimpin dengan gaya ini menaruh perhatian yang rendah terhadap tugas maupun manusia.
Ciri-cirinya adalah :
a. Pemimpin hanya menentukan sasaran.
b. Pelaksanaan sepenuhnya diserahkan kepada bawahan

PERILAKU BAWAHAN

Bawahan dalam menjalankan tugasnya menunjukkan berbagai perilaku yang mencerminkan tingkat kesiapan / kematangan orang tersebut. Dua variable yang menentukan kesiapan bawahan adalah :
1. Kemampuan
Mencerminkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki bawahan dalam melaksanakan pekerjaannya. Unsur-unsurnya antara lain adalah :
a. Pengalaman dalam bidang pekerjaannya.
b. Pengetahuan dan keterampilan tentang pekerjaan atau tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
c. Kemampuan memecahkan masalah dalam bidang pekerjaannya.
d. Kemampuan melaksanakan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
e. Kemampuan menyelesaikan menurut waktu yang telah ditentukan.

2. Kemauan / Mental
Mencerminkan kemauan dan kestabilan mental seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya. Unsur-unsurnya antara lain adalah :
a. Kemauan melaksanakan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
b. Dorongan untuk berprestasi tinggi, mencapai hasil yang lebih baik dari yang sekarang.
c. Ketekunan dan usaha untuk memenuhi target.
d. Sikap dalam bekerja, apakah ia menikmati tugasnya atau terpaksa mengerjakannya.
e. Ada tidaknya ketergantungan pada orang lain.

Kombinasi dari kedua variable kesiapan bawahan ini menghasilkan orang dengan berbagai derajat kesiapan atau kematangan yang disebut R1, R2, R3 dan R4. (Pengelompokkan tingkat kesiapan kelompok / anak buah).
Unsur kesiapan ini haruslah dikaitkan dengan tugas-tugas tertentu yang harus dilaksanakan. Dengan demikian tidak dapat dikatakan ada orang secara keseluruhan siap ataupun tidak siap. Bawahan mempunyai derajat kesiapan yang berbeda tergantung dari tugas dan tanggug jawabnya atau sasaran yang ditentukan atasan. Demikian pula kesiapan ini harus dikaitkan dengan kondisi “emosional” seseorang pada saat-saat tertentu.

KEPEMIMPINAN SITUASIONAL

Dengan melihat bahwa bawahan sebenarnya mempunyai tingkat kesiapan atau kesiapan yang berbeda-beda dalam berbagai situasi, seharusnya seorang pemimpin tidak menggunakan gaya kepemimpinan yang sama. Maksudnya adalah ia harus berusaha menggunakan cara memimpin yang sesuai untuk masing-masing situasi. Konsep mengenai hal ini disebut “Teori Kepemimpinan Berdasarkan Situasi” atau “Kepemimpinan Situasional”.
Konsep ini menjelaskan bahwa untuk karyawan dengan tingkat kesiapan tertentu diperlukan gaya kepemimpinan yang tertentu pula seperti dapat dilihat pada matriks berikut :

Kesiapan Bawahan Gaya Kepemimpinan
R1 (unable & unwilling or insecure) Instruktif / Telling
R2 (Unable but willing or confident) Persuasif / Selling
R3 (Able but unwilling or insecure) Partisipatif
R4 (Able & willing or confident) Delegasi


KEKUATAN (POWER) UNTUK MENDUKUNG GAYA KEPEMIMPINAN

Efektivitas dari kepemimpinan seseorang tidaklah dapat dilepaskan dari adanya kekuatan yang harus memberikan dukungan terhadap gaya kepemimpinan yang digunakan. Kekuatan (power) adalah alat yang digunakan oleh seorang pemimpin untuk mendapatkan “kepatuhan” dari bawahannya.
Kekuatan-kekuatan yang dapat digunakan untuk mempengaruhi tingkah laku orang lain adalah :
1. Coercive Power
Merupakan kekuatan yang diperoleh dengan menciptakan rasa takut, misalnya dengan memarahi, mengancam atau menghukum.
2. Connection Power
Merupakan kekuatan yang diperoleh karena adanya koneksi / hubungan dengan orang-orang yang penting atau berpengaruh.
3. Reward Power
Kekuatan yang diperoleh karena kemampuan memberikan “imbalan” (reward) kepada orang lain, baik berupa “Material” maupun “immaterial”

4. Legitimate Power
Merupakan kekuatan yang diperoleh karena jabatan / posisi dan adanya hak-hak tertentu karena jabatan yang didudukinya.

5. Information Power
Merupakan kekuatan yang diperoleh karena memiliki atau mempunyai cara untuk memperoleh informasi yang penting dan langka bagi orang lain.

6. Expert Power
Merupakan kekuatan yang diperoleh karena memiliki keahlian, kecakapan atau pengetahuan.

7. Referent Power
Merupakan kekuatan yang diperoleh karena mempunyai kepribadian yang disenangi atau dikagumi oleh orang lain.

INTEGRASI

Gaya kepemimpinan yang digunakan seorang pemimpin haruslah didukung oleh kekuatan tertentu untuk membuat gaya tersebut efektif. Di lain pihak tipe kesiapan bawahan menentukan gaya kepemimpinan yang harus disesuaikan penggunaannya.
Pada table di bawah ini diringkaskan hubungan antara kesiapan bawahan, gaya kepemimpinan dan kekuatan yang diperlukan.

Kesiapan Gaya Kepemimpinan Kekuatan
R1 Instruktif / Telling Coercive
Connection
R2 Persuasif / Selling Connection
Reward Legitimate
R3 Partisipatif Legitimate
Referent
Information
R4 Delegasi Information
Expert


MENGAPA ORANG MAU DIGERAKKAN ATAU MAU JADI PENGIKUT?
1. Adanya dorongan-dorongan untuk mengikuti pemimpin (meniru, ikut serta).
2. Kekaguman dan tertarik pada sifat-sifat pemimpin atau pada idealisme.
3. Dengan mempergunakan teknik memimpin oleh pemimpin.
4. Karena tradisi, adat, agama, peraturan-peraturan, pertimbangan rasional.

TEKNIK KEPEMIMPINAN
1. Teknik mendapatkan dan mempertahankan kepengikutan.
2. Teknik mendapatkan partisipasi
3. Teknik mendapatkan bawahan mau bekerjasama
4. Teknik membina situasi sosial
5. Teknik mengembangkan bawahan
6. Teknik menyediakan fasilitas

1. Teknik mendapatkan dan mempertahankan kepengikutan :
• Teknik persuasi
• Teknik penerangan secara pribadi dan kelompok (tatap muka)
• Teknik propaganda dengan komunikasi massa (untuk merubah, memperkuat bagi perubahan tingkah laku yang sudah ada)
• Teknik konsultasi, mendengar secara empatik dan membantu pemecahan masalah.
2. Teknik mendapatkan partisipasi :
• Secara bersama-sama menentukan tujuan, merencanakan kegiatan, dan bekerja dalam mencapai tujuan.
• Selalu menggunakan “metoda pemecahan masalah bersama”.
3. Teknik mendapatkan bawahan mau bekerjasama :
• Memenuhi kebutuhan pokok manusia (fisiologi, rasa aman, sosial, prestige / esteem, aktualisasi diri).
• Jelaskan tujuan organisasi, struktur, pentingnya kerjasama dan sebagainya.
4. Teknik membina situasi sosial :
• Usahakan iklim saling percaya, saling hormat, saling memperhatikan dalam suasana kebebasan mengemukakan pendapat, saling memberikan umpan balik, saling memajukan diri dan anggota lain.
5. Teknik mengembangkan bawahan :
• Melalui latihan-latihan teknis, administratif / management dan berjenjang.
• Melanjutkan pendidikan.
• Menghadiri sidang, seminar, lokakarya, dsb.
6. Teknik menyediakan fasilitas :
• Uang, perlengkapan kerja, fasilitas perangsang, waktu, material, dsb.


METODA KEPEMIMPINAN
1. Memaksakan pada bawahan.
2. Membiarkan bawahan berkembang dengan pembinaan dan pengarahan.
Boss Follower
Centered Centered






Boss Membuat keputusan.



Boss
Menjual keputusan.



Boss
Punya ide dan ingin tanya jawab.




Boss
Punya keputusan tentative yang dapat dirubah.



Boss
Menyampaikan ide minta komentar dan keputusan bersama



Boss
Menyampaikan keterbatasan dan minta kelompok untuk memutuskan.




Boss membiarkan bawahan berfungsi dalam batas-batas tertentu.




TEORI X dan Y

Teori X :
Pandangan tradisional mengenai pembinaan dan pengawasan.
1. Rata-rata manusia tidak senang bekerja dan selalu menghindari.
2. Karena itu mereka harus dipaksa, diarahkan, diancam, dihukum, supaya mereka mau bekerja.
3. Rata-rata manusia lebih senang diperintah, diarahkan, diawasi dan menghindari tanggung jawab, ingin aman di atas segalanya.

TEORI Y :
Integrasi dari tujuan individu dan tujuan organisasi.
1. Penggunaan usaha-usaha fisik dan mental dalam suatu pekerjaan, adalah sama dengan bermain-main atau istirahat.
- Pada dasarnya manusia menyukai bekerja.
- Pekerjaan merupakan kepuasan dan secara suka rela dan sadar melaksanakan pekerjaan.
2. Pengawasan luar dan ancaman hukuman tidaklah satu-satunya alat untuk membuat orang mau bekerja. Manusia dengan sendirinya mau bekerja, mau maju, dan mau mawas diri untuk mencapai tujuan yang telah disepakati.
3. Komitmen terhadap tujuan adalah fungsi dari ganjaran yang dihubungkan dengan hasil-hasilnya.
4. Dalam kondisi yang memungkinkan, pada dasarnya setiap manusia menerima dan mencari tanggung jawab.
5. Kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah dalam organisasi pada dasarnya tinggi dan sangat kreatif dan dapat meluas diantara karyawan.
6. Dalam kondisi kehidupan industri yang moderen, kemampuan intelektual pada rata-rata manusia adalah hanya sebagian dipergunakan.

Menurut MASLOW, terdapat suatu jenjang kebutuhan bagi setiap manusia. Jenjang kebutuhan itu adalah :
1. Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal dsb. (FISIOLOGICAL NEEDS)
2. Kebutuhan akan keamanan kerja (SAFETY NEEDS)
3. Kebutuhan akan mendapatkan tempat dalam pergaulan dimasyarakat (SOCIAL NEEDS)
4. Kebutuhan akan mendapatkan penghargaan dan rasa hormat (AUTONOMY ACHIEVEMENT, COMPETENCE, KNOWLEDGE) serta mendapat suatu status
5. Kebutuhan akan kebebasan diri serta pengembangan diri sendiri sesuai dengan bakat-bakat yang ada (SELF, FULFILLMENT NEEDS)

Cara penerapan pemenuhan kebutuhan ini sebaiknya bertingkat melalui tingkat pertama, kedua dan selanjutnya. Akan tetapi untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, kita harus mengisi sepenuhnya secara puas tingkat-tingkat yang lebih rendah.

Akhirnya seperti diutarakan semula, beberapa sifat yang harus dipunyai oleh pemimpin:
1. EMPATHY seorang pimpinan harus dapat merasakan, seolah-olah ia berada pada posisi seorang bawahannya. Jadi ia mengerti, merasakan, dan mungkin akan bertindak menurut keadaan-keadaan tertentu. Ada kemungkinan keputusan-keputusan seorang pimpinan dalam setiap masalah akan dapat diterima oleh anggota kelompok karena bersifat bijaksana.

2. Objektivitas.

3. Faktor mengenal diri sendiri serta mengenal diri orang lain juga harus dimiliki setiap pemimpin. Suatu ketentuan apabila dilaksanakan, akan menghasilkan response yang berbeda-beda bagi setiap orang. Karena itu harus memperhatikan juga segi-segi approach yang mungkin berbeda bagi setiap orang.

4. Faktor physic dan badaniah juga dapat menentukan berhasil tidaknya suatu kepemimpinan. Disini sudah terang mencakup hal-hal seperti kesehatan badan, kegiatan kerja, kegesitan serta personal appearance.

5. Faktor intelligence merupakan hal yang tak boleh diabaikan, karena kecerdasan merupakan hal yang penting dalam setiap pengambilan keputusan.

6. SELF CONFIDENCE, atau percaya pada diri sendiri akan sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam memimpin. Bagaimana seseorang akan dapat memberikan pengaruh yang baik pada orang lain, kalau dia sendiri bersifat ragu-ragu akan setiap putusan yang diambilnya.

7. Kesenangan seseorang akan masyarakat banyak, juga harus dipunyai oleh seorang pemimpin, karena dalam organisasi manapun faktor manusia akan selalu terlibat, maka seorang pemimpin mesti mempunyai rasa kasih sayang pada sesama manusia.

8. Faktor WILL mencakup unsur-unsur penting bagi seorang pemimpin seperti initiative, persistence dan ambition. Initiative mestilah besar sekali bagi seorang pemimpin agar kerja tidak menjadi rutin. Pandangan-pandangan baru harus dipunyai oleh entrepreneur demi memajukan organisasinya. Selanjutnya ketekunan kerja dan kerajinan memegang peranan penting dalam keberhasilan suatu leadership.

9. Faktor dominance memegang peranan penting bagi seorang pemimpin. Dia harus lebih dari yang lain dan buah pikirannya harus selalu berada di garis terdepat. Kita ingat pepatah janganlah menjadi bangsa bebek yang selalu mau mengekor.

10. Faktor lain yang juga mempengaruhi seorang pemimpin tercakup dalam hal-hal seperti TALKATIVENESS, CHEERFULNEES, ENTHUSIASM, EXPRESSIVENESS, ALERTNESS dan ORIGINALITY. Tak dapat dimungkiri lagi bahwa hal-hal seperti kegemaran berbicara, kegembiraan dalam melaksanakan sesuatu, bersemangat dalam kerja dan tugas, selalu siap sedia menghadapi setiap kemungkinan serta selalu menghasilkan yang orisinil dan lain-lain, akan selalu membuat suatu leadership menjadi efektif.

11. Selanjutnya seorang pemimpin harus mempunyai rasa keadilan (A Keen sense of Social justice)

12. TACT dan DIPLOMACY harus dipunyai seorang pemimpin: cepat menangkap suatu persoalan dan selalu bersifat diplomatis merupakan hal-hal yang berguna dalam menghadapi faktor-faktor kemanusiaan.

13. JUDGMENT AND COMMON SENSE harus dipenuhi juga oleh seorang pemimpin, karena dalam pengambilan keputusan akan selalu kita hadapi faktor umum atau commonsense, serta adilnya setiap keputusan yang diambil.

14. POWER dalam analisa-analisa masalah pun harus dipunyai karena pengambilan keputusan akan berasal dari setiap analisa yang baik. Analisa yang salah tentu akan menghasilkan keputusan yang salah pula.

Bentuk kepemimpinan, faktor lingkungan dan sebagainya akan mempengaruhi suatu kepimpinan yang efektif. Hal-hal tersebut adalah :
1. Bentuk kepemimpinan akan menentukan suatu leadership yang efektif sekurang-kurangnya kita mengenal tiga bentuk kepemimpinan yakni:
a. Production centred leadership
b. Group centred leadership
c. Accomodative leadership

Produk centred leadership hanya menitik beratkan perhatiannya pada hasil produksi belaka, tanpa memperhatikan pendapat atau kehendak dari orang bawahannya. Tak ada pendapat orang bawahan yang diterima, semua pekerja menurut instruksi dan prosedur yang tersedia.
Group centred leadership selalu menitik beratkan persoalan, dari segi subordinate, pendapat mereka selalu didengar dan partisipasi mereka selalu didambakan.
Accommodative leadership memberikan kepemimpinan yang lebih pasif, semua ditentukan oleh subordinate. Pengarahan tidak terdapat disini. Dan pengambilan keputusan tidak berdasarkan pendapat dari leader tersebut.

2. Bentuk organisasi, perusahaan pun akan mempengaruhi segi kepemimpinan seseorang. Apakah sebuah organisasi telah settled atau baru di masyarakat, apakah perkumpulan telah bernama, kesemuanya akan mempengaruhi cara-cara leadership seseorang.
3. Orang-orang yang menjadi subordinate pun akan mempengaruhi suatu leadership. Hal mana dapat menentukan sekaligus type kepemimpinan dalam suatu organisasi. Memimpin anak-anak tentu berlainan memimpin suatu perkumpulan orang dewasa.

4. Future expectation dari suatu organisasi pun akan menentukan tindak tanduk kita dalam suatu organisasi. Umpama kita menghadapi paceklik, atau zaman darurat di masa mendatang, maka sudah terang hal-hal ini akan mempengaruhi leadership seseorang.

5. Bentuk lingkungan masyarakat sekitarnya pun dapat mempengaruhi kepemimpinan dalam organisasi kita. Di sini tentu termasuk adat istiadat setempat serta faktor-faktor kebudayaan lainnya.

6. Bentuk pasar akan mempengaruhi tindak tanduk kita dalam melaksanakan tugas sebagai pemimpin. Dimana terdapat persaingan yang merajalela, kegesitan seseorang diperlukan dalam memimpinan suatu organisasi.

7. Horizon, atau luas lingkup usaha organisasi kita pun akan menentukan leadership seseorang dalam suatu perkumpulan.

Adapun tujuan organisasi kita untuk beberapa tahun tertentu, ataukah akan bersifat jangka panjang, kesemuanya akan amat menentukan leadership kita.
Ketujuh faktor lingkungan ini baru beberapa diantaranya, dan baru diketahui orang secara ilmiah kira-kira 20 tahun belakangan ini. Mula-mula orang mengabaikan faktor-faktor ini, akan tetapi kemudian diketahui bahwa faktor lingkungan pun amat menentukan suatu leadership yang efektif.

Akhirnya marilah kita mengambil beberapa kesimpulan umum
1. Faktor kepemimpinan atau leadership amat dibutuhkan dalam suatu kelompok masyarakat, organisasi atau perusahaan karena berbagai faktor seperti perlunya pengarahan, serta perlunya usaha-usaha dilakukan secara baik dan efektif.

2. Mereka yang melaksanakan leadership perlu mengenal dan mengetahui kebutuhan-kebutuhan tersebut demi pencapaian cita-cita kelompok.

3. Kepemimpinan atau leadership merupakan bagian dari management dan sudah terang mempunyai sifat-sifat Art dan Science.
4. Sifat-sifat tertentu dari kepemimpinan dapat diutarakan antara lain sebagai berikut
a. Empathy
b. Konsisten
c. Objective
d. Mengenal diri sendiri
e. Fisik
f. Intelligencia
g. Percaya pada diri sendiri
h. Kesenangan akan sesama manusia
i. Faktor will yang berisi initiative, persistence dan ambition
j. Dominance
k. Talkativeness,cheerfulness ,enthusuasm, expressiveness, alertness dan originality.
l. Social justice
m. Tact and diplomacy
n. Judgment and common sense
o. Kemampuan dalam mengadakan analisa dsb.

5. Bentuk-bentuk latihan tertentu dapat membantu kita untuk mendapatkan leadership yang efektive seperti management game, role playing, leadership training, sensitivity training, dan kursus-kursus human relation in administration.

6. Akhirnya faktor lingkungan pun dapat mempengaruhi suatu kepemimpinan seperti a) bentuk kepemimpinan itu sendiri, b) bentuk organisasi, c) orang-orang yang menjadi subordinate, d) future expectation, e) bentuk lingkungan masyarakat, f) bentuk pasar, g) dan horizon dari organisasi itu sendiri.









The More You Share, The More You Earn

Share Artikelmu Tentang HR
Dapatkan Reward Ekslusif

Gratis sampai kapanpun

Rekomendasi Untuk Anda