Kompetensi Organisasi

Tris Susanti Dewi 15 May 2012

Kompetensi Organisasi


Tidak dapat dipungkiri dan diragukan lagi, bahwa salah satu faktor yang paling penting dan mampu menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi adalah faktor sumber daya manusia atau disebut SDM. Keunggulan bersaing ( competitive advantage) suatu organisasi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, penanganan sumber daya manusia harus dilakukan secara menyeluruh dan seksama dalam kerangka sistem pengelolaan sumber daya manusia yang bersifat strategis, menyatu dan selalu terhubung, sesuai tujuan dan visi misi organisasi.

Sebenarnya, masih banyak tindakan yang harus dilakukan oleh organisasi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu mengalami suatu perubahan ini, baik perubahan dari dalam (internal) maupun perubahan dari luar (eksternal). Misalnya penggunaan teknologi informasi. Total Quality Management (TPM), re-design proses kerja, dan membuat struktur organisasi yang flattening atau horizontalization atau bahkan secara ekstrem, melakukan perubahan secara radikal, total, menyeluruh dan besar-besaran (business transformation). Akan tetapi, untuk melakukan perubahan tersebut secara baik dan aman, factor organisasi tidak bisa hanya sekedar meniru atau mampu meningkatkan perhatian pada nilai-nilai (value) tujuan organisasi mereka sendiri. Oleh karenanya, kompetensi inti organisasi harus dikembangkan oleh seluruh unsur dan anggota organisasi itu sendiri sepanjang waktu dan secara terus menerus berkelanjutan dan berkesinambungan (sustainable).

Untuk memiliki kompetensi yang mendalam dan menyeluruh, sebaiknya organisasi bergantung pada kerangka visi organisasi itu sendiri (organization vision framework), karena hal ini merupakan sebuah core ideologi yang terdiri atas core value dan purposes dimasa depan, yang selalu diimpikan oleh setiap organisasi. Jadi, tanpa adanya value dan core competences, tidak akan tumbuh berkembang dengan subur pada tujuan organisasi tersebut. Bahwa core competence yang ada pada setiap organisasi seharusnya mempunyai sifat khas bagi organisasi itu sendiri. Core competence tersebut agar dapat digunakan secara efektif, maka dipastikan harus mampu menjawab tantangan dari para pesaingnya, yang disebut keunggulan bersaing atau competitive advantage. Dengan demikian, apabila organisasi mulai mengkonsentrasikan diri pada core competence-nya, maka organisasi tersebut harus cepat memberikan perhatian yang lebih banyak dan berfokus pada kompetensi dari anggota atau karyawannya. Sebab, salah satu variable pembentuk core competence organisasi yang baik adalah dari kompetensi individu karyawannya itu sendiri. Apabila kompetensi individu sudah sesuai dan selaras dengan core competence organisasi, maka akan tercipta competence-based organization atau organisasi yang berbasis kompetensi.

Merujuk pada strategi bersaing, organisasi seharusnya memiliki keunggulan kompetitif yang hakiki, yaitu organisasi memiliki ambisi, mentalitas, dan ingin menjadi yang terbaik, serta memiliki mentalitas kewirausahaan dengan keinginan sangat kuat untuk survive dan menjadi pemenang diantara para pesaing-pesaingnya. Apabila mentalitas tersebut ada dalam sebuah organisasi, maka organisasi tersebut akan selalu memenangkan persaingan sebab mentalitas tersebut tidak mudah ditiru atau direplikasi oleh pesaingnya. Namun mentalitas tersebut akan eksis dalam sebuah organisasi, apabila individu yang ada dalam organisasi tersebut juga memilikinya. Oleh karenanya, bila individu dalam organisasi memiliki ambisi masa depan dan mampu menutup kesenjangan antara situasi saat ini dengan pandangan akan masa depan, maka niscaya organisasi akan lebih cerah dan berprospek di masa depan.

Dalam terminology sifat seperti demikian dikenal sebagai motivasi kompetensi atau competence mortivation. Sifat ini sangat berbeda dengan achievement motivation, yang dapat digambarkan sebagai :how much can I do? Sedangkan competence motivation dapat digambarkan sebagai : how well can I do it? Secara khusus, manajer sumber daya manusia harus memiliki peran yang sangat signifikan dalam memobilisasi kompetensi individu agar selaras dengan kompetensi inti organisasi. Manajer Sumber Daya Manusia juga harus terlibat langsung dalam proses transformasi kompetensi individu, dimana kompetensi individu diubah menjadi core competence organisasi. Transformasi tersebut bukanlah hanya sekedar masalah pelatihan-pelatihan (training saja), melainkan juga harus melibatkan semua karyawan dalam organisasi agar dapat bekerjasama dalam sebuah teamwork. Selanjutnya, agar kompetensi organisasi dapat dikomunikasikan dengan baik, maka sangatlah penting untuk merespons lingkungan dan kondisi dimana pembelajaran kompetensi tersebut dapat diwujudkan. Hal ini akan menjadi krusial karena proses pembelajaran kompetensi memerlukan learning competences atau learning by learning. Selain itu, proses pembelajaran dalam organisasi juga memerlukan rasa percaya diri, kepercayaan dan motivasi untuk bertindak. Percaya diri sangatlah diperlukan oleh setiap individu. Sebab tanpa percaya diri, seorang individu tidak akan termotivasi untuk melakukan suatu tindakan. Misalnya menyelesaikan pekerjaan tertentu. Faktor-faktor percaya diri tersebut adalah mampu menerima tantangan, membuat keputusan, mengeluarkan pendapat dan meminimalisasi kesalahan.

Kepercayaan yang dibina antar karyawan maupun antara karyawan dengan pihak manajemen juga merupakan factor kunci lain yang memungkinkan terwujudnya proses pembelajaran kompetensi. Rasa saling percaya akan meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri masing-masing karyawan. Kerpercayaan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk verbal maupun non-verbal. Selanjutnya, kepercayaan tersebut dapat ditumbuhkan oleh sistem manajerial yang terdiri atas (1) insentif/reward, (2) pendidikan pelatihan, (3) sistem dan (4) kebijakan.

Organisasi sebagai sebuah identitas diri merupakan sistem yang terbuka dan transfaran, organisasi tidak boleh menyendiri atau mengasingkan diri dari lingkungannya. Oleh karena itu, kompetensi yang dikembangkan dalam organisasi tersebut juga tidak boleh mengabaikan nilai-nilai (value) yang ada dalam masyarakat. Kompetensi individu maupun kompetensi inti organisasi merupakan bagian dari nilai-nilai sosial.

The More You Share, The More You Earn

Share Artikelmu Tentang HR
Dapatkan Reward Ekslusif

Gratis sampai kapanpun

Rekomendasi Untuk Anda